Minggu, 13 Februari 2011

PLATINA Vs CDI

    Artikel ini memuat tentang cara kerja pengapian mesin mobil (ignition) pada umumnya, baik dengan menggunakan platina maupun dengan menggunakan CDI.Gambar dan artikel ini disadur dari http://www.jetav8r.com/, dan juga tentunya pengalaman pribadi.
Cara kerja pengapian mobil Secara sederhana dapat di lihat pada skema berikut ini :
Ketika kita memutar kunci kontak ke posisi "ON" yang terjadi adalah seperti gambar diatas, yaitu koil mendapat kan aliran " setrum"dari accu yang bermuatan +, kemudian platina (POINTS) dalam posisi terbuka. yang artinya Ujung dari koil yang lain berada dalam posisi  nol.
Ketika kita memulai Starter kita atau ketika mobil kita sudah hidup inilah yang terjadi  :
Platina kita akan mengalami siklus buka tutup.Nah oleh karena siklus buka tutup inilah koil kita menjadi "AKTIF" dan melompatkan "setrum" yang cukup besar ke Busi.
APA ARTINYA KOIL kita AKTIF ????
Penjelasan secara mudahnya demikian : Pada dasarnya alat electronic yang ada di mobil kita membutuhkan setrum muatan Positif + dan negatif - dari aki kita agar dapat aktif. demikian pula dengan koil kita. dia membutuhkan muatan + dan -. ketika kunci kontak dalam posisi "On" terminal koil yang bertanda + sudah di aliri setrum sedangkan terminal koil yang bertanda - masih kosong atau nol. Sesaat setelah kita starter maka posisi platina akan menutup sehingga terminal - mendapatkan aliran muatan - . darimana muatan negatif ini muncul? dari body platina itu sendiri yang di lekatkan pada body mobil kita melalui DELCO dan kabel massa. ketika platina pada posisi menutup artinya muatan negatif-  atau yang sering kita sebut massa dalam bahasa awam, tersalurkan melalui kabel platina menuju koil, sehingga koil aktif dan mengahsilkan lompatan "api" ke busi.
 
Bagaimana koil dapat membuat lompatan api yang besar dengan memanfaatkan sumber yang kecil (12V) ?????
Dengan memanfaatkan Hukum Faraday ==> yang secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut :
Apabila sebuah magnet kita gerakan diantara kumparan atau gulungan kawat maka seiring dengan pergerakan magnet itu (sebenarnya medan magnet) maka akan dihasilkan listrik pada kumparan tersebut, dan sebaliknya apabila kumparan kawat pada inti besi kita berikan aliran listrik maka kumparan tersebut akan menghasilkan medan magnet.
Dengan kata lain Perubahan medan magnet pada Kumparan akan menghasilkan aliran listri pada kumparan tersebut!!!!
koil mobil pada umumnya terdiri dari dua kumparan yaitu kumparan primer (dengan jumlah lilitan sedikit) dan juga kumparan sekunder (dengan jumlah lilitan 100X lipat gulungan Primer).
seperti kita melilitkan seutas benang pada gulungan maka hasilnya pasti akan ada dua ujung yang dapat kita temui nah pada gulungan Primer kedua ujung inilah yang akan muncul kepermukaan koil menjadi terminal + dan - pada kepala koil
Maka seperti yang kita bahas sebelumnya ketika koil aktif artinya terminal + mendapat muatan + dan terminal - mendapat muatan - maka kumparan primer ini akan menimbulkan medan magnet yang akan mempengaruhi kumparan sekunder yang posisinya berada didalam kumparan primer. Syarat agar kumparan kedua dapat melompatkan lisrtik maka sesuai hukum faraday harus ada perubahan medan magnet. perubahan medan magnet ini terjadi seiring dengan buka tutupnya Platina/Points.
Dengan jumlah lilitan yang 100 kali lebih banyak dari pada kumparan primer maka tegangan yang dihasilkan secara mudahnya adalah 100X lipat pula. nah tegangan sebesar ini akan mencari sumber massa atau ground atau kutub - terdekat untuk bisa dinetralisir. maka dengan adanya kabel busi dan busi itu sendiri yang salah satu sisinya tertanam pada ground terjadi lah lompatan bunga api yang mampu membakar campuran bahan bakar udara pada ruang bakar mesin.

KONDENSOR
Kita sering di suruh montir2 apabila mengganti platina sekalian ganti kondensornya...betul? apakah fungsi kondensor sebenarnya?
seperti yang kita bahas diatas bahwa setiap terjadi perubahan medan magnet maka akan menghasilkan tegangan pada kumparan, ternyata selain menghasilkan tegangan pada kumparan sekunder yg diteruskan ke busi, medan magnet yang terjadi pada koil juga menghasilkan tegangan pada kumparan primer itu sendiri. Yaitu sebesar +300V, tegangan sebesar ini terjadi ketika posisi Platina/poits terbuka, apabila tegangan ini tidak di netralisasikan atau digrounded maka akan terjadi lompatan bungan api pada platina kita untuk memaksakan tegangan tersebut untuk ke ground.Apabila ini terjadi maka dalam hitungan menit maka platina kita akan hangus dan habis terbakar.
Disinilah Kondensor mengambil peranan, ketika platina posisi terbuka kondensor menampung sementara tegangan tersebut, kemudian ketika platina menutup lagi tegangan tersebut akan dinetralisir atau di grounded lagi.

BALLAST RESISTOR
Balast resistor atau yang dalam bahasa awamnya wheatstone atau restan dan lain2 yaitu berbentuk resistor besar yang terbungkus batu keramik putih terletak diatas resistor. fungsi dari ballast resistor ini adalah penurun tegangan yang masuk ke koil pada saat kendaraan sudah pada kondisi nyala dan berjalan sehingga input ke koil tidak mencapai 12V. hal ini berguna agar koil kita tidak cepat panas dan juga platina tidak cepat gosong. Namun ballast resistor ini tidak digunakan pada saat start pertama. untuk start pertama dibutuhkan api koil yang cukup besar agar dapat membakar campuran bahan bakar dan udara yang masih dingin dan juga pelumasan mesin yang belum sempurna. jadi pada saat starter koil mendapatkan input langsung dari accu sebesar 12V.
untuk jenis jenis koil modern ballast resitor tersebut telah terintegrasi kedalam koil sehingga terletak didalam koil itu. built in internal resistor.
Busi
busi merupakan salah satu komponen utama dalam sistem pengapian, yaitu sebagai komponen ujung yang melakukan pembakaran campuran bahan bakar udara dalam ruang bakar kendaraan, api melompat dari ujung elekroda busi ke ground busi sehingga terjadilah pembakaran. berikut kutipan gambar2 busi yang normal dan tidak normal beserta penyebabnya :
KELEMAHAN SISTEM PENGAPIAN PLATINA
  1. KE ausan pada platina, semahal2nya platina akan mengalami keausan
  2. terbatasnya input tegangan ke dan output dari koil agar tidak menghanguskan platina
  3. Keterbatasan pada rpm tinggi dikarenakan masih mengharapkan kemampuan mekanik pegas
  4. keterbatasan akibat embun, kotoran dan getaran
KE untungan sistem pengapian platina
  1. Murah
  2. Banyak montir pinggir jalan yang ngerti
Sistem CDI
Capasitive Discharge Ignition
Pengertian mudahnya adalah pemanfaatan alat elektronik berupa transistor dan kapasitor untuk menggantikan sistem pengapian tradisional (platina).

Pada prinsipnya CDI memanfaatkan sebuah sensor yang akan aktif apabila di trigger atau di pantik oleh sesusatu, dalam hal ini sensor akan aktif oleh dadu yang ada di tengah delko kita. Salah satu jenis sensor yang sering digunakan adalah sensor Hall.
Sensor hall memanfaatkan efek hall yaitu lapisan tipis semikonduktor yang diberi arus listrik (vs) akan menghasilkan beda potensial (vout) akibat terjadi perubahan medan magnet secara tegak lurus.
beda potensial yang dihasilkan besarnya adallah Vout= I X B
Contoh gambar diatas sebuah magnet diletakan didepan sensor hall, apabila benda besi diletakan tegak lurus pada magnet tersebut maka medan magnet didepan sensor hall akan berubah, perubahan ini akan menghasilkan beda potensial pada pin Vout, maka lampu LED akan menyala.
Yang terjadi pada delco mobil secara sederhananya adalah seperti gambar dibawah ini   :
Nah Vout dari IC Hall ini akan di Perbesar/amplify dengan rangkaian OP amp. atau sejenisnya untuk dapat digunakan sebagai arus Trigger pada kutub - dari koil. Sehingga setiap arus Vout di keluarkan dari IC hall dapat mengaktifkan koil.
Keuntungan Pengapian Dengan sistem CDI
  1. Karena tidak ada kontak, maka tidak ada yang akan aus untuk sistem pengapian ini (timeless, wearless, )
  2. karena bukan menggunakan sistem kontak maka tidak akan terpengaruh pada kotoran, embun pagi, dan juga getaran.(pagi2 lebih mudah untuk starter)
  3. Dapat menggunakan koil racing dengan nilai hambatan yang rendah yang tidak dapat digunakan pada sistem pengapian platina. jika koil racing digunakan pada platina maka dengan cepat akan menghanguskan platina anda....
  4. Tidak ada lagi setel menyetel platina atau adjustment karena tanpa kontak sehingga jika settingan awal sudah ok maka sistem cdi akan bertahan dalam waktu yang cukup lama. sehingga tidak ada lagi tune up rutin selain penggantian busi.
  5. CDI : Pengapian lebih biru karena memiliki rangkaian op Amp yang menjamin supply arus ke koil maksimal
  6. CDI : Lebih hijau...karena tidak membutuhkan penggantian yang menimbulkan sampah bekas platina dan kondensor
Contoh pemasangan CDI :
kijang,cdicdi,cj7mercy tiger,cdi
 
tangomotor,tango motor
Kerkurangan sistem pengapian CDI
  1. Rada mahal dikit( tapi kan invest untuk jangka panjang)
  2. Belum banyak montir pinggir jalan yang mengerti sistem ini sehingga munculah alkisah penggunaan cdi ngeri kalo mogok tiba2 gimana?????( gimana mobil2 baru sekarang? udah pada cdi semua bro.....)
FAKTA
Dari 100 mobil CDI yang mogok 95 diantaranya yang rusak bukan CDI nya melainkan KOIL nya.

Sistem pengapian kondensator

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sistem pengapian kondensator (kapasitor) atau CDI (Capacitor Discharge Ignition) merupakan salah satu jenis sistem pengapian pada kendaraan bermotor yang memanfaatkan arus pengosongan muatan (discharge current) dari kondensator, guna mencatudaya Kumparan pengapian (ignition coil).
Pada Sistem pengapian magneto terdapat beberapa kekurangan, yaitu:
  1. Kumparan pengapian yang dipakai haruslah mempunyai nilai Induktansi yang besar, sehingga unjuk kerjanya di putaran tinggi mesin kurang memuaskan.
  2. Bentuk fisik kumparan pengapian yang dipakai relatif besar.
  3. Pemakaian kontak pemutus (breaker contact) menuntut perawatan dan penggantian komponen tersendiri.
  4. Membutuhkan Pencatu daya yang mempunyai keluaran dengan Beda potensial listrik yang relatif rendah dan Kuat arus listrik yang relatif besar. Hal ini menuntut pemakaian komponen penghubung yang mempunyai nilai Resistansi serendah mungkin.
Walaupun pada nantinya dikembangkan Sistem pengapian transistor atau TSI (Transistorized Switching Ignition) atau TCI (Transistor Controlled Ignition) yang menggunakan transistor untuk menggantikan kontak pemutus, perlahan-lahan kurang diminati seiring dengan kemajuan teknologi.

[sunting] Cara kerja

Awalnya sebuah pencatu daya akan mengisi muatan pada kondensator dalam bentuk Arus listrik searah sampai mencapai beberapa ratus volt. Selanjutnya sebuah pemicu akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus memulai proses pengosongan muatan kondensator untuk mencatudaya kumparan pengapian melalui sebuah Saklar elektronik.
Karena bekerja dengan secara elektronik, sebagian besar komponennya merupakan komponen-komponen elektronik yang ditempatkan pada Papan rangkaian tercetak atau Printed Circuit Board (PCB), lalu dibungkus dengan bahan khusus agar terlindungi dari kotoran, uap, cairan maupun panas. Banyak orang yang menyebutnya modul CDI (CDI module), kotak CDI (CDI box), atau "CDI" saja.
Berdasarkan pencatu dayanya, sistem pengapian CDI terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Sistem pengapian CDI AC yang merupakan dasar dari sistem pengapian CDI, dan menggunakan pencatu daya dari sumber Arus listrik bolak-balik (dinamo AC/alternator).
  2. Sistem pengapian CDI DC yang menggunakan pencatu daya dari sumber arus listrik searah (misalnya dinamo DC, Batere, maupun Aki).
Awalnya sebuah pencatu daya akan mengisi muatan pada kondensator dalam bentuk Arus listrik searah sampai mencapai beberapa ratus volt. Selanjutnya sebuah pemicu akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus memulai proses pengosongan muatan kondensator untuk mencatudaya kumparan pengapian melalui sebuah Saklar elektronik.
Karena bekerja dengan secara elektronik, sebagian besar komponennya merupakan komponen-komponen elektronik yang ditempatkan pada Papan rangkaian tercetak atau Printed Circuit Board (PCB), lalu dibungkus dengan bahan khusus agar terlindungi dari kotoran, uap, cairan maupun panas. Banyak orang yang menyebutnya modul CDI (CDI module), kotak CDI (CDI box), atau "CDI" saja.
Berdasarkan pencatu dayanya, sistem pengapian CDI terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Sistem pengapian CDI AC yang merupakan dasar dari sistem pengapian CDI, dan menggunakan pencatu daya dari sumber Arus listrik bolak-balik (dinamo AC/alternator).
  2. Sistem pengapian CDI DC yang menggunakan pencatu daya dari sumber arus listrik searah (misalnya dinamo DC, Batere, maupun Aki).

[sunting] Bagian-bagian sistem pengapian

Berikut bagian-bagian yang bisa ditemui (atau mungkin beberapa diantaranya kadang-kadang tidak dipakai karena sesuatu hal) di dalam suatu sistem pengapian CDI:
  1. Kumparan pengisian (charging coil).
  2. Kumparan pemicu (trigger/pulser coil).
  3. Penyearah (rectifier).
  4. Baterai (battery).
  5. Sekering (fuse).
  6. Kunci kontak (contact switch).
  7. Kondensator (capacitor).
  8. Saklar elektronik (electronic switch).
  9. Pengatur/penyetabil tegangan (voltage regulator/stabilizer).
  10. Transformator penaik tegangan (voltage step up transformer).
  11. Pengubah tegangan (voltage converter/inverter).
  12. Pelipat tegangan (voltage multiplier).
  13. Kumparan pengapian (ignition coil).
  14. Kabel busi (spark plug cable).
  15. Busi (spark plug).
  16. Sistem pengawatan (wiring system).
  17. Jalur bersama (common line).

[sunting] Catatan

Ada banyak ragam modul CDI dibuat, pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan yang diminta kumparan pengapian dan secara tidak langsung harus menunjang pembakaran seoptimal mungkin, dengan cara mengatur besarnya arus, tegangan dan durasi dari proses pengisian dan pengosongan muatan kondensator. Hal ini menentukan besarnya pasokan daya untuk kumparan pengapian dan juga Pewaktuan pengapian (ignition timing).

sistem pengapian

Sistem Pengapian Mobil Terpopuler {Car Ignition System}

 
i
 
6 Votes
Quantcast
Berbagai model dan jenis sistem pengapian mobil, mulai dengan sistem pengapian menggunakan kontak pemutus atau lebih kita kenal dengan PLATINA, TCI, DIS, IDSI sampai pengapian yang dikendalikan oleh ECU /Elektronik Control Unit .
Perkembangan teknologi elektronika begitu cepat pada perindustrian otomotif, walau memang teknologi manual masih tergolong memiliki masa populer panjang, tetapi teknologi elektronik pada sistem pengapian mobil lebih murah dalam perawatannya, modern serta mampu di kontrol/program serta sudah bisa di komputerisasi. Contact Point/ Platina secara manual bekerja untuk memicu koil ignition, dengan cara kerja menggunakan cam/nok untuk menswitch platina ON dan OFF untuk membangkitkan induksi di kumparan sekunder sehingga menghasilkan tegangan tinggi pada output koil ignition. Teknologi ini membutuhkan pemeliharaan yang besar dan berkala, karena ebonit plat kontak bergesekan dengan Cam distributor.

sistem ac

| 0 komentar ]
1. PROSEDUR STANDAR MENYIAPKAN MANOMETER
• Ambil manometer dari tempatnya
• Amati selang dari kesalahan pemasangan, slang tekanan tinggi ( berwarna merah ) sejajar dengan menometer tekanan tinggi,( berwarna merah ), Slang tekanan rendah ( berwarna biru )sejajar dengan manometer tekanan rendah ( berwarna biru ).dan selang penyalur ( berwarna kuning )berada diantara keduanya.
• Periksa semua kran dari kemungkinan kebocoran.
• Kencangkan semua mur pengunci antara slang dengan manometer

2. CARA MEMVACUM SYSTEM AC

• Utamakan keselamatan kerja, denga cara memakai sarung tangan, memakai kacamata kerja,masker, baju kerja dan sefty shoes.
• Siapkan manometer sesuai dengan prosedur di no. 1
• Hubungkan slang tekanan tinggi ( berwarna merah ) ke katup pelayanan tekanan tinggi ( discharge )
• Hubungkan slang tekanan rendah ( berwarna biru ) ke saluran tekanan rendah ( suction )
• Hubungkan slang penyalur ( berwarna kuning ) ke pompa vacuum
• Pastikan semua mur pengunci menutup rapat saluran-saluran tersebut
• Buka kran saluran tekanan tinggi dan tekanan rendahsehingga gas Freon tidak lagi terdapat pada system AC.
• Setelah system menjadi vacuum lepaskan semua peralatan dari system dengan cara kebalikan dari memasang

3. CARA MENGISI FREON DARI DAERAH TEKANAN TINGGI ( SYSTEM OFF )

• Utamakan keselamatan kerja, denga cara memakai kacamata kerja, masker, baju kerja, sarung tangan, dan sefty shoes.
• Pastikan system dalam keadaan OFF
• Siapkan manometer sesuai dengan prosedur di no. 1
• Ukur tekanan isi Freon yang ada dalam system.
• Hubungkan slang tekanan tinggi ( berwarna merah ) pada katup pelayanan tinggi ( D )pada kompresor atau daerah tekanan tinggi.
• Hubingkan slang penyalur ( berwarna kuning ) pada tabung Freon yang berisi Freon cair, dan pastikan tabung Freon berada lebih tinggi dari system, gantungkan tabung Freon tersebut menggunakan neraca pegas.
• Buka kran saluran tekanan tinggi pada manometerdan kran pada tabung Freon disertai dengan mangamati besarnya Freon yang masuk denga cara mengamati neraca pegas.
• Setelah Freon yang masuk dirasa cukup, ( sesuai denga standar ) tutup kembali semua saluran/kran,
• Lepaskan semua peralatan dari system sesuai dengan prosedur ( kebalikan dari langkah memasang )


4. CARA MENGISI FREON DARI DAERAH TEKANAN RENDAH ( SYSTEM ON )

• Utamakan keselamatan kerja, denga cara memakai kacamata kerja, masker, baju kerja, sarung tangan, dan sefty shoes.
• Pastikan system dalam keadaan ON
• Ambil manometer dari tempatnya sesuai denga prosedur di no. 1
• Periksa tekanan Freon dalam system ( apabila hanya menambahkan )
• Hubungkan slang tekanan rendah ( berwarna biru ) pada katup pelayanan rendah ( S ) pada kompresor atau daerah tekanan rendah.
• Hubungkan slang penyalur ( berwarna kuning ), pada tabung Freon yang berisi Freon gas, tempatkan tabung tersebut di bawah system.
• Buka kran saluran tekanan rendah pada manometerdan kran pada tabung Freon disertai denga mengamati besarnya Freon gas yang masuk ( standar : 1,5 – 2 bar )
• Setelah dirasa cukup tutup kembali semua kran pada saluran tekanan rendah dan tabung Freon
• Lepaskan semua peralatan sesuai denga standar.

5. MENGECEK SYSTEM PADA SAAT OFF


• Utamakan keselamatan kerja, denga cara memakai kacamata kerja, masker, baju kerja, sarung tangan, dan sefty shoes.
• Ambil manometer dari tempatnya sesuai denga prosedur di no. 1
• Hubungkan slang tekanan tinggi ke katup pelayanan tekanan tinggi ( D ),Pastikan bahwa kran tertutup rapat.
• Hubungkan slang tekanan rendah ke katup pelayanan tekanan rendah (S ) dan pastika kran tertutp denga rapat.
• Sistem yang normal mengindikasikan di saluran tekanan tinggi maupun tekanan rendah adalah “ SAMA “, missal tekanan di salutran tekanan tinggi adalah 1 bar maka tekanan di saluran tekanan rendah adalah 1 bar.
• Lepaskan semua peralatan sesuai denga standar

6 . MENGECEK SYSTEM PADA SAAT ON


• Utamakan keselamatan kerja, denga cara memakai kacamata kerja, masker, baju kerja, sarung tangan, dan sefty shoes.
• Ambil manometer dari tempatnya sesuai denga prosedur di no. 1
• Hubungkan slang tekanan tinggi ke katup pelayanan tekanan tinggi ( D ),Pastikan bahwa kran tertutup rapat.
• Hubungkan slang tekanan rendah ke katup pelayanan tekanan rendah (S ) dan pastika kran tertutp denga rapat.
• Pada RPM mesin 1000, di saluran tekanan rendah tekanannya = 1.5 bar - 2 bar.
• Pada RPM mesin 1500 di saluran tekanan tinggi tekanannya = 14 bar -14,5 bar.
• Lepaskan semua peralatan sesuai denga standar

Contoh dari rangkaian AC pada kendaraan



Posting Yang Berhubungan

Cara Memvacum sistem AC
    Mengecek sistem AC
      Cara mengisi freon

      Cara PERBAIKAN MOTOR STARTER

      oleh: KANGGURU     Pengarang : TOYOTA MOTOR CORPORATION
       
      Pemeriksaan MOTOR STARTER Kendaraan
      Motor starter merupakan bagian yang sangat penting dari kendaraan, jika terjadi kerusakan kita akan dibuat kerepotan olehnya. Agar kita tahu letak kerusakan juga nggak dikibulin oleh bengkel "nakal" maka perlu sekali kita tau cara pemeriksaan motor starter. Dari berbagai "artikel" kendaraan yang saya pelajari dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan motor starter meliputi :
      1. Pemeriksaan Komutator, meliputi : a. Pemeriksaan kebersihan dari komutator
      jika kotor bersihkan dengan amplas ukuran # 400
      b. Run Out
      jika keolengan melebihi 0,05 mm ratakan dengan mesin bubut
      c. Kedalaman alur
      jika kedalaman alur kurang dari 0,2 mm perbaiki dengan mata gergaji

      2. Armature coil, meliputi :
      a. Kontinuitas kumparan
      kondisi baik bila ada kontinuitas antar ujung kumparan
      b. Ground test
      kondisi baik bila tidak ada kontinuitas

      3.
      Field coil, meliputi :
      a. Periksa kontinuitas srikuit field coil
      kondisi baik bila ada kontinuitas antar ujung kumparan
      b. Ground test, baik bila tidak ada kontinuitas

      4. Sikat,
      meliputi :
      bila panjang sikat kurang dari 8,0 mm maka sikat harus diganti

      5. Pemegang sikat

      pastikan pemegang sikat (+) dengan (-) tidak ada kontinuitas

      6.
      Magnetic switcha. Kembalinya plunyer
      kondisi baik bila plunyer ditekan segera kembali
      b. Pull in coil test
      periksa hubungan antara terminal 50 dengan C.kondisi baik bila ada kontinuitas.
      c. Hold in coil test
      periksa hubungan antara terminal 50 dan body. jika ada kontinuitas berarti Baik

      7. Pemeriksaan Tanpa beban

      jika pemeriksaan awal dari 1 sampai 6 telah dilakukan maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji tanpa beban. maksudnya disini adalah pemeriksaan motor starter tanpa dipasang pada kendaraan. adapun pemeriksaan ini dilakukan dengan :

      a. menghubungan terminal negatif baterai dengan body motor starter
      b. Menghubungkan terminal positif baterai dengan terminal 30 motor starter (biasanya baut terminal 30 lebih panjang dibanding dengan baut terminal C)
      c. Sebagai gantinya kunci kontak maka hubungkan terminal 30 dengan terminal 50.
      d. Ketika terminal 30 dihubungkan dengan terminal 50 maka pada plunyer akan terlempar dilanjutkan dengan berputar.
      Apabila kondisi ini kita jumpai pada saat pemeriksaan akhir motor starter maka dapat disimpulkan motor starter dalam kondisi baik.
      naaah ............. mudah kan.....


      Lebih lanjut tentang: Cara PERBAIKAN MOTOR STARTER

      artikel master rem

      Deteksi Masalah Pada Booster Rem E-mail
      Written by Galih   
      Booster rem
      Booster rem
      Rem merupakan salah satu alat yang paling vital dalam berkendara yang berfungsi untuk mengontrol, memperlambat dan menghentikan laju kendaraan. Tentunya apabila pada bagian ini terjadi masalah, bisa berakibat sangat fatal terhadap keselamatan mengemudi. Untuk melakukan pengereman pada keempat roda mobil hanya diserahkan pada satu brake pedal (pedal rem), sehingga  dibutuhkan komponen tambahan yaitu Booster Rem (brake booster) yang berfungsi untuk memperingan kerja pedal rem dengan cara meningkatkan daya dorong pedal rem yang memanfaatkan kevakuman intake manifold pada saat mesin hidup.
      Karena kinerja dari brake booster sendiri sangat berat, maka tidak ada salahnya untuk memperhatikan apakah terjadi kerusakan apa tidaknya. Kerusakan yang ada pada booster rem pun tidak bisa dilihat kasat mata karena biasa terjadi pada komponen dalamnya dan biasanya ada pada bagian klep dan sil-nya. Nah untuk mendeteksi apakah booster rem pada kendaraan anda terjadi kerusakan atau tidak, berikut ini adalah cara-cara untuk mendeteksinya :
      1. Putar kunci kontak pada posisi OFF (mesin mati).
      2. Kocok (tekan-lepas) pedal rem secara berulang untuk mendapatkan posisi pedal rem tertinggi (kaki tetap menekan pedal rem).
      3. Hidupkan mesin.
      4. Pada saat mesin distarter untuk menyalakan mesin, jika booster rem dalam keadaan normal maka pedal rem akan turun dengan sendirinya (posisi kaki tetap menekan pedal rem).
      5. Kemudian matikan mesin.
      6. Pada saat mesin mati, maka pedal rem harus tetap posisi pada terbawah, dan pedal harus akan naik apabila anda melakukan pengocokan kembali, jika anda mengalami hal pedal rem tidak naik kembali, berarti ada masalah pada booster rem mobilnya.
      “Saat sedang mengemudi, anda juga dapat mendeteksi jika booster rem mengalami masalah, biasanya gejala ditunjukkan ketika melakukan pengereman pedal rem naiknya lambat atau biasanya ada bunyi angin seperti bocor/ngempos dan kadang-kadang jika tidak ada suara yang keluar, biasanya ketika menginjak pedal rem akan terasa keras dan tetap rem maksimal atau bahkan tidak dapat sama sekali melakukan pengereman”, terang Wawan, mekanik dari bengkel mobil Berdikari.

      Jika sudah menunjukkan gejala seperti itu pada saat melakukan pengereman, segera mobil anda dibawa kebengkel untuk diperiksa booster remnya, tapi sebagai antisipasi darurat sebelum mendapatkan bengkel untuk memperbaiki atau mengganti booster rem, anda dapat mengakali master rem dengan diganjal tapi itupun tidak bertahan lama. Jadi apabila kerusakan sudah terdeteksi oleh bengkel, sebaiknya segera ganti booster rem demi keamanan dan kenyamanan dalam berkendara.